Alasan Psikologis Korban KDRT Sulit Lepas dari Bayang-bayang Pasangan Toxic

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat menyebabkan trauma mendalam pada korban. Akan tetapi, sebagian korban KDRT memilih untuk tetap bersama dengan pasangannya.

Sebenarnya, ada banyak alasan yang menyebabkan korban KDRT sulit lepas dari jeratan pasangannya. Alasan yang dimiliki mereka pun dapat dibilang kompleks. Orang yang tidak pernah mengalami KDRT mungkin akan cukup sulit untuk memahami ini semua.

Baca juga: Pelajari Isyarat Tangan Korban KDRT, Wajib Tahu untuk Kirim dan Terima Sinyal Pertolongan!

Alasan psikologis mengapa korban KDRT sulit lepas dari pasangannya

Ketika kamu mendengar korban KDRT yang tetap memilih untuk bersama dengan pasangannya, kamu mungkin saja akan melontarkan pertanyaan seperti “kenapa ia tidak meninggalkan pasangannya saja?”

Akan tetapi, bagi korban KDRT yang memilih tetap bersama dengan pasangannya karena suatu alasan, menjalani hari-hari bersama pasangan yang melakukan kekerasan tidaklah semudah mempertanyakan hal tersebut.

Bahkan, dilansir dari Psychology Today, dalam sebuah penelitian yang berjudul “Why Doesn’t She Just Leave?”, peneliti mencatat bahwa para korban yang berusaha mempertahankan hubungan mereka termotivasi untuk menerima permintaan maaf dari pelaku yang berjanji untuk berubah.

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa korban KDRT sulit untuk lepas dari pasangannya.

1. Merasa takut

Korban KDRT mungkin akan merasa takut akan konsekuensi yang dihadapi olehnya jika mereka memutuskan untuk meninggalkan pasangannya, baik karena takut akan tindakan pasangannya atau kekhawatiran atas kemampuan dirinya sendiri.

Tak hanya itu, korban KDRT juga dapat merasakan ketakutan untuk meninggalkan hubungan yang penuh kekerasan karena mereka takut akan mengalami kekerasan yang lebih buruk dibandingkan dengan kekerasan yang sudah mereka alami.

2. Malu

Mungkin sulit bagi seseorang untuk mengakui bahwa mereka pernah atau sedang mengalami kekerasan. Korban mungkin saja akan merasa bahwa ia melakukan hal yang salah, yang menyebabkan ia pantas untuk mendapatkan kekerasan.

Perlu diketahui juga bahwa, pelaku seringkali meremehkan, menyangkal, serta menyalahkan korban. Ketika hal ini terjadi, korban dapat merasa malu membuat alasan bagi diri sendiri maupun orang lain untuk menutupi tindak kekerasan yang dilakukan pasangannya.

3. Merasa terancam

Ancaman cedera fisik dan emosional yang kuat yang diberikan oleh pelaku dapat mengontrol korban sekaligus membuatnya terjebak. Korban KDRT perempuan, lebih memungkinkan untuk mendapatkan teror dan ancaman dibandingkan dengan laki-laki.

Tak hanya itu, pelaku juga dapat mengancam untuk menyebarkan informasi rahasia dari pasangannya. Ancaman ini juga dapat menjadi kesempatan bagi pelaku yang melakukan KDRT untuk menggunakan kendali.

4. Trauma dan kepercayaan diri yang rendah

Kekerasan secara verbal atau fisik tak hanya dapat menyebabkan trauma saja, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kepercayaan diri korban, terlebih lagi jika ia sering disalahkan atas kekerasan fisik yang dialaminya.

Korban dapat mempercayai hal tersebut dan meyakini bahwa mereka bersalah atas perilaku pasangannya. Korban memiliki kebebasan yang terbatas untuk membuat keputusan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Oleh karenanya, mereka seringkali merasa trauma.

Baca juga: Perselingkuhan Dapat Menimbulkan Trauma, Bagaimana Cara Mengatasinya?

5. Masalah finansial

Alasan lain mengapa korban KDRT tidak meninggalkan pasangannya adalah karena permasalahan keuangan, seringkali ini dikaitkan dengan pengasuhan anak.

Korban merasa takut bahwa jika ia meninggalkan pasangannya, ia akan kesulitan dalam menghidupi dirinya sendiri serta anak-anak.

6. Memikirkan anak-anak

Anak-anak merupakan alasan utama mengapa korban KDRT memilih untuk tetap bersama dengan pasangannya. Bahkan mereka lebih mengutamankan anak-anak dibandingkan dengan keselamatannya sendiri.

Beberapa korban, juga menginginkan anak-anaknya memiliki keluarga yang utuh. Sementara yang lainnya, merasa takut jika bercerai, ia akan kehilangan hak asuh anak dan merasa takut jika pelaku juga melakukan kekerasan pada anak-anak.

7. Percaya dapat mengubah pasangan

Terkadang, korban juga masih memiliki perasaan yang kuat terhadap pasangannya. Mereka memiliki keinginan untuk membantu atau mencintai pasangannya dengan harapan bahwa mereka dapat mengubah perilaku pasangan.

Di awal hubungan, mungkin saja pelaku memiliki sifat yang baik, korban mungkin saja berharap bahwa pasangan mereka akan kembali seperti dulu lagi. Selain itu, alasan lainnya adalah korban percaya pada janji pelaku untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

Banyak korban KDRT yang ragu untuk angkat bicara karena takut dihakimi oleh orang terdekat.

Jika lebih banyak orang menanggapi cerita korban dengan perhatian dan kasih sayang dibandingkan dengan kritik, akan ada lebih banyak korban KDRT yang berbicara mengenai kekerasan yang dialaminya.

Memahami alasan korban KDRT untuk tetap bersama pasangannya merupakan hal yang sangat penting. Dengan memahaminya, kamu dapat membantu korban KDRT untuk membuat keputusan terbaik untuk lepas dari bayang-bayang kekerasan yang menghantuinya.

Punya pertanyaan lebih lanjut terkait kesehatan? Silakan chat kami melalui Aplikasi Grab Health. Dokter terpercaya kami siap membantumu dengan layanan 24/7.

 204 total views,  2 views today