Penggunaan Natrium Benzoat sebagai Pengawet Makanan, Berbahaya atau Tidak?

Penggunaan natrium benzoat sebagai pengawet makanan sudah umum dijumpai pada produk kemasan. Meski bisa menjaga makanan tetap awet agar bisa dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, natrium benzoat dapat menimbulkan efek tidak baik untuk kesehatan.

Apa saja dampak buruk tersebut? Serta, berapa batasan takaran untuk konsumsi hariannya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca Juga: Cek Manfaat Makanan Fermentasi Bagi Kesehatan Tubuh!

Apa itu natrium benzoat?

Natrium benzoat adalah zat kimia yang terbuat dari asam benzoat dan natrium hidroksida. Dilansir dari Healthline, asam benzoat merupakan zat pengawet yang baik, sedangkan natrium hidroksida dapat membantunya untuk larut.

Natrium benzoat tidak terbentuk secara alami, melainkan berasal dari banyak tanaman, termasuk kayu manis, cengkeh, tomat, plum, dan apel.

Ketika sudah mengalami proses sintesis, zat berbentuk kristal dan tidak berbau ini akan digunakan pada banyak produk, terutama makanan kemasan dan fermentasi.

Natrium benzoat sebagai pengawet makanan

natrium benzoat sebagai pengawet makanan
Natrium (sodium) benzoat pada label kemasan. Sumber foto: www.importfood.com

Seperti yang telah disebutkan, penggunaan natrium benzoat sebagai pengawet makanan kemasan adalah hal yang sudah sering ditemukan. Bukan tanpa sebab, ada beberapa hal yang membuat zat ini dipakai untuk menjaga kualitas dari makanan tersebut agar berumur panjang.

Mengutip Live Strong, penggunaan natrium benzoat pada makanan tak lepas dari sifat antijamur yang dimiliki. Zat tersebut bisa melindungi makanan dari jamur yang dapat mempercepat pembusukan.

Natrium benzoat bekerja dengan memasukkan senyawa khusus ke dalam makanan, menyeimbangkan tingkat pH, dan meningkatkan keasamannya. Dengan begitu, jamur tidak bisa tumbuh dan menyebar, dan makanan tetap aman dikonsumsi dalam jangka waktu yang relatif lama.

Selain itu, natrium benzoat juga sering dipakai pada minuman berkarbonasi untuk meningkatkan intensitas rasanya. Ini berlaku pula untuk makanan yang memiliki tingkat keasaman tinggi, seperti cuka, saus tertentu, dan acar.

Batasan penggunaan natrium benzoat

Penggunaan natrium benzoat pada makanan diatur secara ketat. Hal ini untuk menghindari dampak negatif pada kesehatan yang bisa ditimbulkan. Tubuh manusia tidak mengakumulasi natrium benzoat, sistem metabolisme akan mengeluarkan zat itu melalui urine dalam waktu 24 jam.

Food and Drug Administration (FDA) mengizinkan penggunaan natrium benzoat sebagai pengawet makanan dengan kadar maksimal 0,1 persen. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), tingkat asupan harian yang diterima adalah 0-5 mg per kg berat badan.

Plus minus natrium benzoat sebagai pengawet makanan

Secara garis besar, manfaat dari natrium benzoat terletak pada fungsinya dalam menjaga kualitas dan memperpanjang usia konsumsi makanan itu sendiri.

Sedangkan untuk urusan kesehatan, asupan zat ini sangat perlu dibatasi. Natrium benzoat bisa menjadi racun jika dikonsumsi bersama makanan yang mengandung vitamin C.

Dibandingkan dengan nilai posisifnya, penggunaan natrium benzoat sebagai pengawet makanan justru lebih banyak memiliki efek buruk pada kesehatan, di antaranya:

1. Risiko penyakit kanker

Pemakaian natrium benzoat dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Zat tersebut dapat berubah menjadi benzena, senyawa yang bersifat karsinogenik.

Senyawa karsinogen bisa mengganggu sel-sel sehat di dalam tubuh yang dapat berujung pada kanker.

Benzena dapat terbentuk pada produk soda dan minuman dengan kandungan vitamin C (asam askorbat) yang telah diberikan natrium benzoat. Zat ini juga bisa muncul dari paparan panas atau cahaya, serta durasi penyimpanan yang lebih lama.

Baca juga: Hati-hati, Ini Deretan Makanan Pemicu Kanker!

2. Gangguan kesehatan lain

Tak hanya risiko kanker, penggunaan natrium benzoat sebagai pengawet makanan juga dapat memicu banyak gangguan kesehatan lainnya, seperti:

  • Peradangan: Menurut sebuah riset, natrium benzoat dapat mengaktifkan ‘jalur’ inflamasi di dalam tubuh jika dikonsumsi terlalu banyak. Peradangan ini bisa mengganggu sel-sel sehat, yang kemudian berpotensi berubah menjadi kanker.
  • Alergi: Sebuah penelitian memaparkan, sebagian kecil orang mungkin akan mengalami reaksi alergi seperti gatal dan pembengkakan setelah mengonsumsi makanan yang mengandung natrium benzoat.
  • Kontrol nafsu makan: Berdasarkan sebuah publikasi, kandungan natrium benzoat bisa menurunkan pelepasan leptin atau hormon penekan nafsu makan. Penurunannya bisa mencapai 49 hingga 70 persen.
  • Stres oksidatif: Sebuah studi pada 2014 memaparkan, semakin tinggi konsentrasi natrium benzoat, semakin banyak pula radikal bebas yang terbentuk. Lama-kelamaan, hal ini bisa merusak dan mengganggu sel-sel sehat lalu meningkatkan risiko sejumlah penyakit kronis.

Nah, itulah ulasan tentang penggunaan natrium benzoat sebagai pengawet makanan dan bahaya yang bisa ditimbulkan dari konsumsi berlebihan. Sebelum membeli produk, periksa label kemasan lebih dulu dan pastikan kadar natrium benzoat tak lebih dari 0,1 persen, ya!

Jangan pernah ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya di Good Doctor. Akses layanannya 24/7 melalui aplikasi Grab Health sekarang juga. Kini, semua informasi kesehatan ada di genggamanmu!

 196 total views,  2 views today