Perokok Rentan Corona, Mitos atau Fakta?

Bermula di Wuhan, China, kini wabah COVID-19 telah menyebar di lebih dari 200 negara. Dilihat dari cara virus menginfeksi tubuh, tak sedikit yang beranggapan bahwa perokok menjadi orang yang sangat rentan terkena infeksi virus corona.

Badan kesehatan dunia atau WHO sendiri bahkan memberi perhatian khusus tentang keterkaitan antara rokok dengan virus corona. Lalu, benarkah perokok itu rentan menderita corona? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Sekilas tentang COVID-19

COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus Corona jenis baru, yaitu SARS-CoV-2.

Mirip dengan virus pemicu Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), SARS-CoV-2 menyerang organ paru-paru yang menyebabkan infeksi pernapasan.

Gejala yang paling umum adalah demam, batuk kering, dan mudah lelah. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa sebagian besar (sekitar 80 pesen) orang yang terinfeksi berhasil pulih tanpa perawatan khusus. 

Mitos rokok sembuhkan corona

Ada banyak mitos yang bermunculan di tengah kesibukan kita bergerumul dengan pandemi virus COVID-19. Salah satunya adalah mitos kalau rokok dapat sembuhkan corona. Lalu apakah hal tersebut benar?

Dilansir dari Sluggertoole, klaim tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Justru perokok semakin rentan terkena corona, karena saat merokok ia banyak menggunakan tangan dan mulut yang bisa menjadi media masuknya virus COVID-19 ke dalam tubuh.

Secara umum merokok sendiri adalah kebiasaan yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung, gangguan paru-paru, dan menurunkan sistem kekebalan tubuh. Padahal seperti yang kita tahu, imunitas adalah modal utama untuk melawan pandemi ini.

Nikotin dan corona

Sebuah penelitian mengenai nikotin dan corona yang dipublikasikan di Ncbi menyatakan bahwa merokok dapat membuat penderita COVID-19 mengalami gejala yang lebih buruk daripada pasien COVID-19 pada umumnya.

Ada dua kelompok yang dilibatkan dalam penelitian ini. Pertama 343 pasien yang dirawat inap karena COVID-19 dari 28 Februari hingga 30 Maret, dan kedua 139 pasien rawat jalan dari 23 Maret hingga 9 April.

Di antara data lain yang dikumpulkan, peserta ditanya apakah mereka perokok aktif atau bukan. Hasilnya studi tersebut menemukan 4,4 persen pasien rawat inap dan 5,3 persen pasien rawat jalan dengan COVID-19 adalah perokok.

Meski masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam, secara keseluruhan dapat diartikan bahwa meski terlihat ada hubungan antara merokok dan COVID-19 dalam sampel berbasis rumah sakit tersebut, namun tidak ada bukti ilmiah bahwa merokok mencegah COVID-19.

Benarkah perokok rentan corona?

Badan kesehatan dunia WHO menyatakan, belum ada penelitian khusus tentang korelasi antara merokok dengan COVID-19. Hanya saja, merokok menjadi aktivitas yang berisiko karena aktivitas yang melibatkan jari dan bibir.

Ya, virus SARS-CoV-2 dapat menginfeksi dari tangan ke mulut. Sebab, tangan merupakan tempat ideal bagi virus untuk menetap. Itulah alasan mengapa Centers for Disease Control and Prevention menggalakkan kampanye cuci tangan dan imbauan untuk tidak menyentuh wajah.

Baca juga: Temuan Baru, Ini 6 Jenis Penyakit COVID-19 Berdasarkan Gejalanya

Alasan ilmiah tentang perokok rentan terinfeksi corona

Meski belum diketahui secara pasti tentang keterkaitan rokok dengan paparan virus corona, ada sejumlah penelitian yang menjelaskan bahwa semua jenis rokok bisa meningkatkan risiko penularannya.

Menurut Stanton Glantz, seorang profesor kedokteran dan direktur Pusat Penelitian Pendidikan Pengendalian Tembakau The University of California, merokok segala jenis tembakau dapat merusak paru-paru secara perlahan.

Saat organ ini terganggu, risiko untuk terkena berbagai infeksi saluran pernapasan akan meningkat. Fungsi paru-paru yang terganggu membuat tubuh lebih sulit melawan penyakit pada saluran pernapasan seperti COVID-19.

Kaitan antara merokok dan gejala COVID-19

Salah satu organ dalam yang dilibatkan saat merokok adalah paru-paru. Kandungan dan zat yang ada di rokok bisa ikut terhirup masuk ke dalam, serta bertahan dalam waktu yang tidak sebentar.

Mengutip dari American Heart Associaton, rokok memiliki kandungan nikotin yang bisa bertahan di dalam tubuh hingga 8 jam setelah paparan pertama.

Cepat atau lambat, nikotin akan terbawa oleh darah menuju berbagai organ penting, termasuk jantung. Dalam perjalanannya, zat tersebut bisa menempel pada dinding arteri, yang secara perlahan akan merusak pembuluh darah.

Menurut Kementerian Kesehatan, komplikasi penyakit inilah yang akan memperburuk kondisi pasien COVID-19. Sebagian besar kematian pasien positif COVID-19 lebih disebabkan oleh penyakit lain, salah satunya adalah gangguan pada paru-paru.

Komplikasi COVID-19 akibat merokok

COVID-19 dan merokok memiliki satu persamaan, yaitu sama-sama menyerang paru-paru. Mengutip dari Johns Hopkins Medicine, beberapa gangguan paru-paru yang bisa muncul akibat komplikasi COVID-19 di antaranya adalah:

1. COVID-19 Pneumonia

Saat kondisi ini terjadi, paru-paru berisi banyak cairan hingga menimbulkan peradangan. Akibatnya, pasien akan sulit bernapas. Ventilator atau tabung oksigen mungkin dibutuhkan untuk mengatasi keadaan ini.

Merokok dapat memperburuk kondisi dengan cara menghalangi sistem pertahanan tubuh untuk melawan virus. Akibatnya, cairan tidak hanya menumpuk di satu bagian paru-paru saja, tapi semuanya, termasuk kantung udara.

Kantung udara yang penuh dengan cairan akan membatasi kemampuannya untuk mengambil oksigen dari luar. Kemudian, pasien akan mengalami sesak napas dan batuk-batuk.

Baca juga: Fakta di Balik Pasien COVID-19 yang Telah Sembuh Ternyata Masih Bisa Terinfeksi Lagi

2. Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

ARDS merupakan gangguan pernapasan akut yang dipicu oleh penumpukan cairan di alveoli, yaitu rongga yang merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Berbeda dengan pneumonia, pasien ARDS benar-benar membutuhkan ventilator untuk bernapas.

Menurut sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, merokok adalah salah satu faktor risiko tertinggi dari ARDS. Hal ini tak lepas dari kandungan yang ada padanya, seperti nikotin.

3. Komplikasi sepsis

Sepsis merupakan komplikasi paling parah dari COVID-19, biasanya diawali dengan pneumonia. Kondisi ini bisa terjadi ketika virus pemicunya berhasil menyebar melalui aliran darah, yang menyebabkan kerusakan setiap jaringan yang dilewati.

Sebuah riset pada 2018 memaparkan, asap tembakau yang masuk ke dalam paru-paru mampu memicu peradangan dan memengaruhi kemampuan mukosa dalam menghalang serangan zat asing dari luar, termasuk virus. Akibatnya, tubuh akan lebih rentan terhadap infeksi.

Yang berbahaya, keadaan ini bisa berdampak serius pada organ kardiovaskular seperti jantung. Risiko terbesarnya adalah kematian. Bahkan, jika selamat, pasien akan mengalami kerusakan permanen pada paru-paru dan organ lainnya.

Nah, itulah penjelasan tentang kemungkinan orang yang merokok rentan infeksi corona. Salah satu cara untuk menurunkan risikonya adalah dengan membatasi atau bahkan menghindari rokok secara total. Tetap jaga kesehatan, ya!

Pantau perkembangan COVID-19 di Indonesia melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Jangan pernah ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya di Good Doctor. Akses layanannya 24/7 melalui aplikasi Grab Health sekarang juga. Kini, semua informasi kesehatan ada di genggamanmu!

 158 total views,  2 views today